17 Desember 2012

2 tahun pernikahan




Istriku tercinta...

Betapa cepatnya waktu berlalu...2 tahun sudah.
Telah kita lalui perjalanan ini, ada suka dan ada duka yang penuh dengan dinamika.
tapi dengan dinamika itulah kita semakin dewasa,
dengan perbedaan - perbedaan yang ada itulah kita saling belajar melengkapi dan mengisi.
Tiada manusia yang sempurna.

Jalan panjang dan terjal terbentang luas dihadapan kita,
Tapi yakinlah, kita akan melewati semuanya dengan penuh keyakinan, sabar, dan bertawakal.
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menjaga kita dalam menempuh perjalanan itu,
menjadikan keluarga kita yang Sakinah, Mawadah, Warohmah.. Amin Ya Rabbal Alamin.,

Istriku tercinta...

Tujuan pernikahan tidak hanya pemuas nafsu semata, tidak hanya mempunyai keturunan.
Semua itu bertujuan untuk beribadah kepada-Nya
Janganlah bersedih...janganlah berkeluh kesah...Insya Alloh semua sudah diatur sedemikian rupa
dan ditempatkan dalam bingkai kehidupan kita berdua

Maafkan aku yang selalu khilaf & salah ini
Maafkan aku yang belum pantas menjadi teladan
maafkan aku yang belum maksimal memberikan pengarahan dalam kebaikan.

Selalu panjatkan doa kepada-Nya
Terus memohon dan berusaha..Insya Alloh kita akan diberikan yang terbaik.
Dan yakinlah, apa yang sudah diberikan adalah yang terbaik untuk kita

Ya Allah.. Ya Rabb..
kami bersyukur kepada-Mu yang tiada henti-hentinya Kau berikan kami nikmat yang begitu besar..
dengan izin-Mu kami bertemu...dengan izin dan Ridho-Mu pula kami menjalani kehidupan pernikahan kami.
tak ada hal yang lepas dari ketetapan-Mu...dan hanya dengan ridho-Mu kami memohon & berharap.

Istriku tercinta...

Selamat 2 Tahun Pernikahan ..
Allah SWT akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Love you..


Suamimu,

27 November 2011

1 Tahun Pernikahan

Duhai istriku tercinta,

kita telah memilih sendiri yang akan menjadi pendamping sebagai seorang suami/istri,
maka agar tawakkal kita sempurna setelah ikhtiar yang kita lakukan tersebut,
kini saatnya kita menerima ketentuan Allah menjadi suami/istri dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Jika dahulu kita sering berkhayal tentang sebuah bangunan keluarga yang ideal dan harmonis,
Kini saatnya kita lebih dituntut berjalan di atas realita untuk merealisasikannya.

Jika kita dahulu sering tekun mendengarkan atau membaca petuah tentang bagaimana membangun keluarga Islami yang ideal,
kini justru kita harus lebih banyak belajar bagaimana merealisasikannya,
bahkan saat ini dengan memasuki 1 tahun usia pernikahan kita, pembelajaran tersebut justru semakin penting
karena kita langsung merasakannya.

Semoga Allah selalu memberkahi keluarga kecil kita
serta diberikan keturunan yang shaleh penerus jalan dakwah dan pembawa panji Allah. Amin.

Pernikahan menyingkap tabir rahasia
Pernikahan menginsafkan kita, perlunya iman dan taqwa Untuk belajar meniti sabar dan redho ALLAH SWT
Pernikahan mengajar kita kewajiban bersama


Selamat 1st pernikahan istriku tercinta
semoga kita selalu berada dalam bimbingan cahaya Allah SWT dalam mengarungi bahtera rumah tangga


Suamimu,

29 Maret 2011

Nasihat Menghadapi Para Pendengki


Berikut saya kutip nasihat Syaikh Dr. ’Aidh Abdullah Al Qarny hafizhahullah dari buku Silakan Terpesona, hal. 187. Cet.3, Penerbit Sahara Publishers. Jakarta, Juni 2005. Beliau menulis:

Bagaimanapun Anda berbuat baik kepada orang yang hasud, misalnya membawakan makanan dan minuman kepadanya, memakaikan pakaiannya, membawakan air wudhunya, menyikatkan permadaninya, membersihkan rumahnya, dan lain-lain, Anda akan tetap dianggapnya sebagai musuh. Mengapa demikian? Sebab, hal-hal yang menjadi pemicu permusuhan dengannya itu masih melekat pada diri Anda, yaitu keutamaan, ilmu pengetahuan, tata krama, harta, atau jabatan Anda. Bagaimana pun Anda tidak akan dapat berdamai dengannya selama Anda belum menanggalkan karunia-karunia tersebut dari diri Anda. Orang yang iri hati akan selalu menunggu-nunggu saat Anda terpeleset, menanti-nanti kapan Anda terjatuh, dan berangan-angan suatu saat Anda tergelincir.

Hari terbaik baginya adalah hari Anda jatuh sakit, malam terindah baginya adalah malam Anda jatuh miskin, dan saat-saat paling membahagiakan baginya adalah hari Anda tertimpa bencana, dan waktu yang paling disukainya adalah hari Dia melihat Anda gelisah, resah, sedih, dan rapuh.

Momen yang paling menyiksanya adalah ketika ia melihat Anda menjadi kaya raya. Berita paling menyedihkannya adalah ketika Anda meraih keberuntungan dan menjadi orang terhormat. Dan bencana paling besar baginya adalah ketika Anda mendapat promosi.

Tawa Anda adalah tangisnya, pesta Anda adalah upacara kematiannya, dan keberhasilan Anda adalah kegagalannya.

Dia akan melupakan segala-galanya tentang diri Anda, kecuali kesalahan-kesalahan Anda. Dia tidak memandang apa pun kepada diri Anda, kecuali pada kekurangan-kekurangan Anda. Kesalahan Anda yang kecil, baginya lebih besar daripada gunung Uhud. Dosa Anda yang sepele, menurutnya lebih berat daripada gunung Tsahlan. Meskipun Anda lebih fasih daripada Sahban, baginya Anda lebih gagap daripada Baqil. Meskipun Anda lebih dermawan daripada Hatim, baginya Anda lebih kikir darpada Madir. Meskipun Anda lebih cerdas daripada Asy Syafi’i, dia memandang Anda lebih bodoh dari pada Habnaqah.

Orang yang memuji Anda di hadapannya dianggapnya pendusta. Orang yang menyanjung Anda di dekatnya dianggapnya orang munafik. Orang yang memuji Anda di majelisnya dianggapnya orang rendah yang tak tahu etika. Sebaliknya, dia mempercayai orang yang mencela Anda, menyukai orang yang membenci Anda, mendekati orang yang memusuhi Anda, menolong orang yang tidak menyukai dan tidak akrab dengan Anda.

Warna putih menurut pandangan mata Anda, terlihat hitam baginya. Siang dalam penglihatan Anda, malam dalam pandangannya.

Maka dari itu, janganlah Anda menjadikannya sebagai hakim dalam perkara Anda dengan orang lain, karena dia telah memvonis Anda bersalah sebelum mendengar tuntutan dan melihat bukti-bukti. Janganlah Anda membocorkan rahasia kepadanya, karena dia sangat bersemangat menyebarkan dan menyiarkannya. Ia menyimpan kekeliruan Anda sampai hari ia membutuhkannya dan mencatat kesalahan Anda sampai hari ia memerlukannya. Cara menghadapinya hanyalah menghindari dan meninggalkannya, menghilang dari pandangannya, menjauhi rumahnya, dan menyingkir dari tempatnya. Sebab, dia sebenarnya adalah sang penindas yang berpenampilan orang yang tertindas. Tak usah Anda membalasnya, sudah cukup baginya kepahitan di kerongkongannya, duka nestapa yang dialaminya, kesedihan yang merundungnya, dan kecelakaan yang dirasakannya.

Andalah yang membuatnya sakit dan menderita; andalah yang membuatnya tidak bisa tidur dan gundah gulana; andalah yang mendatangkan kegelisahan, kesedihan, kelelahan, dan keletihan padanya.

Aku berhasil, maka sujudlah orang yang dulu mencela diriku
Dia tidak kucela, itulah pemaafan dan penghinaanku baginya

Itu juga yang kualami di antara keluarga dan orang sebangsaku
Sebab, barang yang berharga memang aneh di mana saja berada

Orang yang iri pada kebaikanku, berdusta di belakangku
Berghibah sembunyi-sembunyi, memuji-muji di depan mata


Sumber : faridnuman.blogspot.com


18 Januari 2010

Yang Bernama Wanita

Kaulah bunga ditaman harapan
mekarmu dipagari
dari sucinya hati
seorang wanita terpelihara

Biar badai menggugah
kembangmu tetap indah
dari nur keimanan menjulang dijiwamu
asuhan ayah bunda

Kau srikandi umat
akhlakmu bunga diri
menjaga nama & budi
dikaulah yang bernama wanita sejati
kaulah permata

Wanita...sholehah

(lyric from mustika)

Qadha' dan Qadar


{Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri,
melainkan dia telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya.}

(QS. Al-Hadid: 22)

Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan.Maka,
{Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami."}
(QS. At-Taubah: 51)

Apa yang membuat Anda benar, maka tak akan membuat Anda salah. Sebaliknya, apa yang membuat Anda salah, maka tidak akan membuat Anda benar.
Jika keyakinan tersebut tertanam kuat pada jiwa Anda dan kukuh bersemayam dalam hati Anda, maka setiap bencana akan menjadi karunia, setiap ujian menjadi anugerah, dan setiap peristiwa menjadi penghargaan
dan pahala.
"Barangsiapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji oleh-Nya." (Al Hadits)

Karena itu, jangan pernah merasa gundah dan bersedih dikarenakan suatu penyakit, kematian yang semakin dekat, kerugian harta, atau rumah terbakar. Betapapun, sesungguhnya Sang Maha Pencipta telah menentukan
segala sesuatunya dan takdir telah bicara. Usaha dan upaya dapat sedemikian rupa, tetapi hak untuk menentukan tetap mutlak milik Allah.

Pahala telah tercapai, dan dosa sudah terhapus. Maka, berbahagialah orang-orang yang tertimpa musibah atas kesabaran dan kerelaan mereka terhadap Yang Maha Mengambil, Maha Pemberi, Maha Mengekang lagi Maha Lapang.
{Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.}
(QS. Al-Anbiya: 23)

Syaraf-syaraf Anda akan tetap tegang, kegundahan jiwa Anda tak akan reda, dan kecemasan di dada Anda tak akan pernah sirna, sebelum Anda benar-benar beriman terhadap qadha' dan qadar.

Tinta pena telah mengering bersamaan dengan semua hal yang akan Anda temui. Maka, jangan biarkan diri Anda larut kesedihan. Jangan mengira diri Anda sanggup melakukan segala upaya untuk menahan tembok yang akan runtuh, membendung air yang akan meluap, menahan angin agar tak bertiup, atau memelihara kaca agar tak pecah. Adalah tak benar bila semua itu dapat terjadi dengan paksaanku dan paksaanmu, karena apa yang telah digariskan akan terjadi. Setiap ketentuan akan berjalan dan semua keputusan akan terlaksana. Demikianlah "orang bebas memilih; boleh percaya dan tidak"

Anda harus menyerahkan semua hal kepada takdir agar tak ditindas oleh bala tentara kebencian, penyesalan dan kebinasaan. Dan, percayalah dengan kebenaran qadha' sebelum Anda dilanda banjir penyesalan! Dengan
begitu, jiwa Anda akan tetap tenang menjalani segala daya upaya dan cara yang memang harus ditempuh. Dan bila kemudian terjadi hal-hal yang tidak Anda inginkan, maka itu pun merupakan bagian dari ketentuan yang memang harus terjadi.

Jangan pula pernah berandai, "Seandainya saja aku melakukan seperti ini, niscaya akan begini dan begini jadinya." Tapi katakanlah, "Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki akan Dia lakukan." (Al-Hadits)


DR. 'Aidh Al-Qarni (sumber : Buku La Tahzan)

CINTA & KEIKHLASAN


Tentu kita sudah mengetahui arti secara harfiah 2 kata yang terdapat dalam judul diatas dan mungkin tidaklah asing ditelinga kita ketika kata – kata itu diperdengarkan di telinga kita.
Jika kita lihat lebih dalam, sebenernya sudah sampai mana pemahaman kita tentang makna kata – kata itu? 2 kata yang kadang bisa terpisah kadang pula bisa berkaitan satu sama lain.

Bagi saya hanya kata keikhlasan saja yg saya pahami, berbeda halnya dengan kata cinta. Saya memang minim pengalaman dengan yg namanya cinta jika arti cinta itu berarti menyukai & menyayangi lawan jenis kita (baca = wanita), apalagi jika kedua kata itu dikaitkan satu sama lain. Hal ini yg membuat saya bertanya – tanya, mencoba mencari jawaban dengan mengamati contoh – contoh sederhana yang terjadi.

Mencintai & dicintai adalah fitrah manusia, setiap insan manusia didunia ini pasti akan merasakannya. Cinta bisa membuat orang berubah, yang lemah bisa menjadi kuat, yang pendiam bisa menjadi atraktif, yang takut bisa menjadi berani, dan lain – lain. Begitu juga sebaliknya.

Dari beberapa pendapat yang saya terima, cinta memang diperlukan oleh manusia. Hidup terasa lebih Indah & bermakna. Cinta akan terasa lebih Indah jika memang kita mendapatkan ketentuan sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Ada perhatian…Ada bimbingan
Ada pembelaan…Ada dukungan
Ada bantuan…Ada konflik
Ada suka…Ada bahagia
Ada susah…Ada gelisah
Ada proses pembelajaran menuju kedewasaan

Lantas, apakah cinta itu selamanya Indah???

Banyak hal terjadi selama proses dalam cinta yang tentu saja tidak dapat kita tebak, kita memang bukanlah sebuah penentu, bukan pula pemberi keputusan. Kita sebagai manusia ibarat pelaku dari sebuah drama yang tentu saja sudah di atur skenarionya sedemikian rupa. Kita hanya menjalankan proses – proses atau tahap – tahap dari naskah skenario yang sudah di tetapkan.

Lihat saja…begitu banyak contoh. Ada kondisi bagaimana seseorang putus cinta. Bahkan adapula keadaan dimana sudah terciptanya komitmen untuk melangsungkan pernikahan namun ternyata tidak dapat direalisasikan dengan berbagai macam sebab & alasan.
Ada alasan karena kurang cocok, ada yang sudah kecewa & marah karena kesalahan yang dilakukan oleh salah satu pasangan, adapula istilah pengkhianatan cinta karena kehadiran orang ketiga.

Disinilah adanya keterkaitan antara CINTA & KEIHKLASAN. Bagaimana keikhlasan dibutuhkan dalam setiap kondisi & keadaan. Apapun alasan & penyebab tidak indahnya jalan cinta seorang manusia, ketika dibarengi dengan keihklasan semua yang telah dilakukan tidaklah menjadi percuma dan sia – sia. Setiap manusia akan dipertanggung jawabkan atas apa yg telah dilakukannya, apakah nanti bernilai pahala atau tidak.

Niat & tujuan yang baik tiada menjadi sia – sia jika dilakukan dengan cara yang baik.
Sebaliknya jika niat & tujuan yang baik jika dilakukan dengan cara yang tidak baik maka akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik. Mungkin tujuan itu akan didapat, tapi belum tentu mendatangkan keberkahan atau kebaikan.

Cinta adalah nikmat dari ALLAH SWT, yang membuat dunia menjadi tiada bertepi, lebih dalam dari lautan yang dalam, lebih tinggi dari angkasa yang tinggi. Berbahagialah orang – orang yang dihidupkan dengan cinta namun waspadalah bagi orang yang dibutakan hatinya oleh cinta. Seindah – indahnya cinta adalah cinta kepada penggenggam alam semesta, kepada Yang Maha Mencintai yang tiada pernah terputus cintanya.
Wallahu ‘alam

(HR*)

15 Desember 2009

Saya suka...tapi...

Saya suka melihat jari-jemari teman wanita saya.
Sangat cantik. Sungguh! Sampai saya takut untuk memegangnya.
Bukan takut jari-jemarinya patah, tapi takut nanti jari-jemari kami
tidak bisa saling bantu-membantu di suatu hari yang amat dahsyat
di hadapan Yang Maha Esa.

Saya suka melihat rambutnya.
Cantik betul sungguh! Sebab itu saya belikan dia Jilbab.
Bukannya cemburu saat orang lain melihatnya,
Tapi karena saya ingin rambutnya senantiasa ditutup tidak seperti dalam iklan itu 
takut nanti dibakar di api neraka, di suatu hari yang amat dahsyat
di hadapan Yang Maha Pencipta!

Saya suka melihat body teman wanita saya
solid betul. Sungguh! Sebab itu saya belikan dia gamis
supaya ketika datang waktunya menghadap kekasihnya Yang Utama
dia jaaaaaaauh lebih cantik dan berseri menghadap-Nya.
Saya pun bisa dapat pahala darinya

Saya sedih bila melihat teman wanita saya
tidak tidur & tidak makan sebab rindu dengan saya.
Saya pun punya perasaan yang sama.
Dia bertanya, 'Apa obatnya, bang?'
Saya pun memberikan dia al-Quran sebagai penenang jiwa
semoga dia mencintai-Nya lebih daripada mencintai saya.

Saya sedih melihat dia selalu pesan macam-macam;
"Makan, minum, jaga diri, bawa kendaraan hati-hati
nanti kamu sakit saya juga yang susah…bla bla bla bla."
Tapi saat menonton wayang sama-sama, saat waktu shalat Ashar dan Maghrib
dia tidak berkata apa pun.
Aduuuuh berdosanya saya!

Saya memang sangat sayang kepada dia.
Saya ingin berjumpa dia, bersama dia, cinta secinta-cintanya.
Cinta yang abadi di dunia dan berkasih sayang di akhirat, bertemu di Surga
Karena di sanalah tempat yang kekal selama-lamanya.
Doakan kami untuk saling ingat-mengingati, insaf-menginsafi.

Ya Allah, ampunkanlah kami
semoga kami dapat kekal bersama selama-lamanya, di syurga nanti.
Amin

(from my brother "Fulan" in malaysia with free translate)

04 Desember 2009

Sayang ... Kau Tidak Cantik Lagi! (Surat Untuk Kekasih)

     Kekasihku ... episode Bukan Di Negeri Dongeng nampaknya sudah berakhir. Bahkan cepat sekali berakhir. Keindahanmu memudar padahal kau masih muda, enerjik, dan penuh vitalitas.  Sebenarnya aku masih banyak berharap padamu sebagaimana hari-hari yang lalu. Hari-hari kau masih begitu indahnya;  gadis cantik penuh pesona.  Banyak pemuda lain tergila-gila padamu pada hari-hari kau disebut sebagai  spirit baru bagi umat manusia.

    Hari-hari indah telah kita lalui bersama, aku pun sangat menikmati dan bangga  ada disampingmu.  Karena kau benar-benar lain dan layak untuk dibanggakan, sampai banyak sekali para pemuda yang siap menjadi pembelamu di depan. Banyak  ahli kecantikkan  mencari-cari rahasia keelokkanmu. Tidak sedikit penulis mencatatmu sebagai fenomena baru di negeri ini. Tak ketinggalan, kuli tinta pun memujimu; cantik, cerdas, dan generasi masa depan, satu lagi, shalihah! Namamu menjadi garansi semua harapan. Nyaris sempurna.  Memang, ada pula yang iri hati padamu. Ah .. itu hal biasa.  

    Sebagai gadis baru di  kota tua penuh drakula, dunia baru bagimu, tentu keberadaanmu amat dibutuhkan, ya.. memang menyegarkan dan membuat suasana semakin hidup, masih ada yang bisa diharapkan. Silahkan lihat hatiku, di sana ada dirimu. Di ruang kerjaku fotomu menjadi rebutan. Di rumah? Apalagi! Bahkan  banyak fans-mu yang meletakkanmu di tempat yang tidak  terduga dan sulit dijangkau oleh tangan-tangan berhati kotor. Maka, saat itu, tak ada yang mampu menghalangi gelora cintaku padamu, dan aku yakin jika ada kontes miss  muslimah shalihah  kau adalah pemenangnya; gadis cantik, cerdas, nan shalihah.

    Namun, langit memang tak selamanya cerah. Bulan tidak selamanya terang. Aku lihat, ada sebuncah kekhawatiran menimpa dirimu. Bukan karena kejahatan orang lain, bukan pula sebab makar para pesaingmu yang memang sudah  sedari dulu begitu sunatullahnya. Kecantikanmu memudar dan pesonamu menghilang karena ulah dirimu sendiri. Memang demikian adanya .... ketika manusia pada puncak kejayaannya, tak ada yang mampu menggelincirkannya, biasanya dia akan tergelincir oleh dirinya sendiri; ghurur. Kekasihku, kau menjadi gadis yang genit saat ini,  centil dan norak. Bahkan katanya, kau sudah berani menjual diri dengan harga murah, hanya demi kemenangan. Astaghfirullah!  Aku tidak tahu, apakah ini karena pengaruh dunia barumu itu?

     Kembali  manusia ramai membicarakanmu,  bukan  dirimu sebagai; gadis cantik, cerdas nan shalihah. Tetapi perilakumu yang berubah, batasan syar’imu  mulai abu-abu, keputusanmu untuk menjadi gadis ‘gaul’, katamu; agar bisa memperluas pasar, lalu kau kotori kecantikanmu dengan langkah berani dan kontroversi, serta lisan yang tidak terkendali. Nasihat orang tua, hukama dan pujangga sudah sering kau dapatkan, tetapi justru kau mengatakan: saya lebih tahu tentang apa yang saya lakukan!

    Ditambah lagi, kau mulai tidak telaten menjaga kesegaran tubuhmu, kesehatan jiwamu, dan kecemerlangan akalmu. Agenda-agenda ri’ayah hanya menjadi rencana kosong. Dahulu kau sangat telaten ke salon halaqah, spa daurah, dan les tastqifiyah. Tetapi itu dulu.   Saat ini, kau menjadi gadis yang ringkih, .... ringkih ruhani dan harga diri, tak berani berkata benar, aqidah  sudah keriput, padahal keriput hanyalah milik orang tua ... dan kau masih muda. Manusia mulai menjauh dan mencibir, bahkan marah, termasuk saudara dekatmu. Tak ada lagi kisah Bukan Di Negeri Dongeng yang legendaris itu. Tak ada lagi pujian  dari mereka untukmu, walau kau masih saja merasa cantik, cerdas, dan shalihah seperti dulu. (Ya ... itu romantisme kita masa lalu, boleh-boleh saja diingat). Tak ada lagi kebanggaan meletakkan fotomu di rumah, di kantor, dan sepeda motor! Apalagi setelah mendengar pernyataan-pernyataanmu dengan nada miring tentang syariah, jilbab, dan lainnya .. aku semakin malu.  Masukan-masukan yang kau dapatkan tak satu pun yang kau anggap ... pernah juga kau anggap .. tetapi sebagai angin lalu, bahkan sebagai musuh ...padahal nasihat itu dari kekasihmu sendiri ..   

     Kekasihku ..., jangan takut, aku masih mencintaimu, tetapi .. cinta bukan berarti memuji, menyanjung, dan selalu bermuka manis. Ingatkah ucapan manusia paling terkasih; law saraqat fathimah laqatha’tu yadaha (Seandainya Fathimah mencuri aku sendiri yang akan memotong tangannya). Padahal begitu besar sayang beliau terhadap anaknya.

Kekasihku ..., aku yakin harapan memang masih ada. Tetapi ada pada siapa?

Wallahu A’lam


Oleh : Abu Hudzaifi
http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/130

24 November 2009

Dulu dan Kini

Dulu...

Lima waktu tidak pernah tertinggal untuk ditunaikan selain di masjid
penuh dengan semangat untuk melangkah walau fisik bangunan berkubah itu tak terlihat mata
dengan pasangan baju gamis/koko dgn sarung dan kopiah yg melekat di kepala.

tangan ini tak henti-hentinya selalu menengadah memanjatkan doa
selalu mengeluh dan mengadu kepada-Mu
Meminta...meratap...bercerita

Tak pernah lepas Al-Qur'an kecil menemani kemana saja
Tak bosan-bosannya lisan ini melafadzkan ayat-ayat-Mu dimana saja
walau sedikit tapi terus - menerus

Selalu mencoba mengulurkan tangan membantu sesama
dgn niat dan harapan dalam kemasan sedekah
Sedikit tapi bermakna

Kini...

hati seperti tertutup
telinga tidak mendengar
kaki Berat melangkah
Saat sayup - sayup gema azan berkumandang membahana

Waktu kita terlalu sempit
hingga membuat tak ada lagi cerita kita kepada-Nya
Tak ada lagi tangan yg terbuka menengadah

Al-Qur'an hanya sebagai kawan bisu yg menemani
dibawa tapi tak dibaca
sebagai accessoris pelengkap atau hanya kultur identitas semata

tak ada lagi amalan yg bernama sedekah
walaupun dgn amanah rizki yg berlimpah


Ya Rabb..Ampunilah kami
(HR*)

Renungan Semalam


Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku.
Allah menjawab, Tidak.
Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan kecacatanku.
Allah menjawab, Tidak.
Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.
Allah menjawab, Tidak.
Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.


Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.
Allah menjawab, Tidak.
Aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.
Allah menjawab, Tidak.
Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.

Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.
Allah menjawab, Tidak.
Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah

Aku meminta kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.
Allah menjawab, Tidak.
Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Allah membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.
Allah menjawab.... Ahhh, akhirnya kau mengerti.

HARI INI ADALAH MILIKMU, JANGAN SIA-SIAKAN.

Bagi dunia, kamu mungkin hanyalah seseorang,
Tetapi bagi seseorang kamu adalah "dunianya"


(Dwiani Endah Pawestri)

04 November 2009

IBU

Kasih ibu sepanjang masa. Istilah tsb tidak perlu kita ragukan lagi, dengan segala daya dan upaya selalu dilakukan seorang ibu bagi buah hatinya. Selama proses dikandungan, bagaimana ibu berupaya menjaga kesehatan diri & buah hatinya, membawa kemanapun kaki melangkah, apapun yg dilakukan tidak akan pernah terlepas kaitan/hubungannya dgn sang bayi. Selama proses bersalin, Ibu mempertaruhkan hidup & matinya demi kelahiran & keselamatan sang bayi dengan menahan rasa sakit yg luar biasa dan diakhiri dgn senyum merekah ketika suara tangisan bersenandung.

Apakah hanya sampai disitu pengorbanannya??

Ketika si buah hati lahir, bagaimana ibu membesarkan hingga tumbuh dewasa, mengajarkan, membimbing, dan mendidik dengan penuh kasih sayang & kesabaran yg luar biasa pula. Hingga akhirnya sang anak menjadi seseorang yg dewasa & mandiri. Tak ada rasa meminta pamrih dari apa yg sudah dilakukan olehnya, dan sudah menjadi kewajiban bagi anak untuk menjaga, menghormati, memelihara, serta merawat Sang Ibu. Yaaa...itu sudah sunatullah bagaimana sang anak merawat & menjaga ibu dgn penuh kasih sayang sebagaimana ibu merawat sewaktu kecil.

Setelah anak dewasa, ternyata sang ibu juga harus merawat orang tuanya yg sudah tak berdaya dan membutuhkan kasih sayang dari sang Ibu. Selama itu, tanpa disadari ternyata sang ibu pun masih memikirkan anaknya. Terlontarlah sebuah ucapan dari mulut kecil dgn tubuh yg sudah tidak terlalu bugar kepada si anak, "kalau nanti Ibu sudah tidak berdaya seperti nenek dan kalian sudah sibuk masing-masing, titip saja ibu ke panti jompo. Cukup kalian berikan kasih sayang dgn selalu datang ke sana. ibu sudah merasakan bagaimana waktu & tenaga tersita dgn merawat nenek"

bagaimana mungkin seorang ibu dengan pengorbanan yg sudah dilakukan berbicara seperti itu, dan bagaimana pula sang anak akan tega & ikhlas untuk mengabulkan ucapan si ibu. Bahkan dgn ucapan "ah" saja sudah dianggap sebagai sebuah pendurhakaan anak kpd orang tua, apalagi dgn menitipkannya ke panti jompo. Merenung hati sang anak dan berucap, "wahai ibu..selama masih ada detak jantung di diri ini, selama masih ada tenaga dari tubuh ini, apapun akan dilakukan untuk menjaga, merawat serta membahagiakanmu".

Bukankah surga itu berada di telapak para ibu?? (H.R. Ahmad).
Tidak akan masuk ke dalam surga seorang manusia kecuali dgn ridho Allah SWT, serta tak lepas dari keridhoan orang tuanya. (H.R. Tirmidzi)

Bahkan kedudukan seorang ibu lebih utama bila dibandingkan dgn ayah. Bila di representasikan dalam hukum perbandingan maka akan bernilai 3:1 atau dgn kata lain nilai seorang ibu 3x lipat daripada ayah.

Telah datang seorang sahabat kepada Rasulullah lalu bertanya : Wahai rasulullah, siapakah orang yg lebih berhak menjadi sahabatku yg baik? Jawab Rasulullah : Ibumu. Sahabat bertanya lagi, lalu siapa lagi? Rasulullah menjawab : Ibumu. lalu sahabat itu bertanya lagi, kemudian siapa lagi? Rasulullah menjawab : Ibumu. Lalu sahabat itu bertanya lagi, kemudian siapa lagi? Maka Rasulullah menjawab : Bapakmu (H.R. Bukhori & Muslim).

Sudah menjadi sebuah keniscayaan bagi anak dalam melaksanakan kewajibannya kepada orang tuanya terutama ibu. Saat ini waktunya kita untuk membalas semua jasa & pengorbanan yg telah dilakukan ibu.

Wahai ibu..aku akan selalu memberikan kasih sayang kepadamu, Ku berikan dgn setulus hatiku untuk selalu menjaga & merawatmu, Jangan ada lagi kata-kata itu terlontar dari lisanmu, karena merupakan suatu keharusan bagiku. (HR*)

14 September 2009

Ternyata oh Ternyata

Dari awal bikin blog, sudah ada komitmen dalam diri ini untuk selalu mencoba untuk update tulisan baik tulisan sendiri maupun saduran dari orang lain. Niat sudah ditancapkan...realisasi hanya dgn menggerakkan tangan.

Tapi...Ternyata oh ternyata...

Niat saja tidaklah cukup...niat komitmen untuk menulis juga berbanding lurus dengan faktor-faktor eksternal lainnya. Niat ada...judul ada...pengembangan tulisan sudah ada di kepala...beberapa tulisan sudah dipersiapkan


tapi...ternyata oh ternyata...

masih ada faktor lain yg bermain...yaitu waktu.
Ada apa dgn waktu?? kok bisa semua niat itu tidak terlaksana hanya karena waktu??
Yaaaaa...semua itu tidak terlaksana hanya karena waktu. Dari semua aktivitas kita dalam 24 jam sehari, 7 hari seminggu, berapa banyak waktu kita untuk menulis?
kini tiba waktunya untuk menulis...waktu sudah ada.

tapi...ternyata oh ternyata...

niatan itu juga tidak terlaksana. Ada apa lagi ini??? waktu yg sudah tersedia masih tidak bisa menggerakkan tangan untuk mencoba menulis.
semuanya hilang karena mood untuk menulis pun tidak hadir.

Berkata dalam hati apa ini hanya sebuah pembelaan diri semata???

ternyata oh ternyata...

itu adalah sebuah REALITA
(HR*)

02 Desember 2008

Ustadz Harus Ganteng?

 Ada ustadz bagus, mumpuni, sarat ilmu, dilengkapi dengan teknik penyampaian yang memikat. Sayangnya, sang ustadz dianggap memiliki kekurangan, tampangnya tidak menarik alias tidak bisa dibilang tampan. "gesture-nya nggak pas, kurang menjual," ujar seorang produser televisi.

Setelah hunting kesana kemari, mencari informasi dari berbagai sumber, didapatlah seorang ustadz yang diinginkan. Sarat pertama, tampan alias ganteng. Wajah bersih, menarik, good looking, dan yang paling utama; menjual! Sedangkan sarat lainnya, soal kapasitas keilmuan, bobot materi, bahkan integritas kepribadian, bisa jadi nomor sekian.

Materi bisa saja ada yang menuliskan, kepasitas keilmuan bisa sambil jalan, integritas kepribadian bisa dikamuflase dengan wajah rupawan dan keahlian retorika yang memikat. Maka jadilah sosok ustadz atau ustadzah hasil sulapan, yang ditampilkan demi meraup keuntungan melalui mekanisme rating dan selera pasar, sekaligus keinginan pihak sponsor.

Ustadz dan ustadzah ini, karena kegantengannya dan kecantikannya cepat meroket, melesat bak selebritis. Bahkan hampir tidak ada bedanya dengan selebritis, sebab ia pun kerap masuk dalam beragam acara infotainment yang sebelumnya menjadi hegemoni penuh para selebritis kita. Dan lantaran ingin memenuhi selera pasar pula, penampilan sang ustadz dan ustadzah pun dipermak layaknya seorang artis. Pakaiannya jadi trendsetter, banyak para jamaah yang berupaya mengikuti semua gaya dan penampilannya, dari baju gamis, kacamata, jilbab sampai sepatu.

Ustadz dan ustadzah pun jadi bintang iklan, cenderung dimanfaatkan oleh orang-orang yang mencari keuntungan dari popularitas keustadz-annya. Mereka pikir, ustadz dan ustadzah kan punya pengikut, jamaah atau bahkan fans, jadi yang diincar itu bukan ustadznya, tapi yang berada di belakang ustadz itu.

Kemudian, makin terkenallah ustadz dan ustadzah ini, diundang ceramah ke berbagai daerah dan kota seluruh Indonesia, sampai ke luar negeri. Kehadirannya disambut meriah, pakai tepuk tangan agar tambah ramai. Ustadz dielu-elukan, dan orang-orang pun berebut menyentuh tangannya untuk diciumi tidak peduli ustadznya masih muda, sedangkan yang mencium tangan muda itu adalah lelaki tua yang jalannya sudah membungkuk.

Permintaan ceramah pun semakin banyak, sehingga ustadz bisa memilih mana bayaran yang paling besar jika terdapat jadwal yang bentrok. Bahkan pada saatnya, sang ustadz melalui managernya boleh mengajukan tarif tertentu kepada panitia penyelenggara atau tidak jadi sama sekali. Maklum, permintaan tinggi, harga juga bisa ditinggikan.

Gigit jarilah para pengurus masjid di kampung-kampung, di desa-desa dan di berbagai pelosok negeri yang nyata-nyata tidak sanggup menyediakan uang transport dan akomodasi yang memadai saat harus mengundang ustadz kondang ini berceramah di masjidnya. Sebab, kelas ustadz ini memang bukan lagi di masjid-masjid kecil, di kampung-kampung becek, melainkan di masjid besar, dan hotel.

Coba hitung, selain tarif yang mahal, masih harus menyediakan tiket pesawat, akomodasi yang layak sekelas selebritis. Ujung-ujungnya, ustadz kampung lagi yang dipakai, selain bayarannya murah, tidak perlu tiket pesawat, hotel, dan bisa dijemput pakai motor. Meskipun seringkali yang disebut ustadz ‘kampung’ ini kualitasnya boleh jadi lebih bagus dari ustadz kondang dari kota. Baik kualitas materinya, juga integritas kepribadiannya. Sayangnya, jamaah kita sudah silau oleh ketenaran sang ustadz kota.

Ketika seorang teman bertanya, “Ssst… hati-hati bicara seperti itu. Memangnya siapa ustadz yang Anda maksud?”

Belum ada sih, ini hanya kekhawatiran saya saja. Makanya saya sering titip pesan kepada para ustadz-ustadz muda yang ganteng, bobot ilmunya bagus dan integritas kepribadiannya tidak diragukan, “Ustadz, jangan mau ditawarin masuk tv ya, saya khawatir ustadz jadi susah ditemui. Nanti saya kalau mau konsultasi atau tanya soal agama harus lewat manager ustadz…”

Kalau ustadz yang lain, yang kualitasnya keilmuannya sama baiknya, punya integritas kepribadian yang juga menarik, namun secara fisik tak bakal dilirik stasiun televisi, saya cukup tersenyum dengan ungkapannya, “kalau semua ceramah di tv, terus yang ceramah di masjid-masjid kampung siapa?”

Ustadz oh ustadz, nggak harus ganteng kok jadi ustadz. (gaw)

24 November 2008

PERNIKAHAN

Pernikahan adalah menjalin ikatan yang kuat dengan Titik Tolak Perbedaan Karakter,
Memadukan begitu banyak Perbedaan,
Merajut sesuatu yang berbeda menjadi warna-warna indah kehidupan
namun membutuhkan sebuah keberanian
untuk mengambil tanggung jawab,
dan kesiapan untuk berjuang.

Pernikahan menjadikan kita belajar banyak hal,
bahwa ternyata mengenal adalah proses panjang
yang tak pernah lekang dan tak terbatas waktu,
Pernikahan menjadikan seseorang mengevaluasi diri,
bukan hanya untuk sekedar meraih kebahagiaan

Pernikahan adalah Keikhlasan untuk memberi dan melakukan Kebaikan,
mendahului memaafkan hingga tak ada yg Terdzolimi,
krn smua hak telah terpenuhi, menyatu dalam ikatan Cinta…..

Jika surga memiliki banyak pintu dengan banyak kunci pembukanya,
mungkin Pernikahan adalah salah satu kunci utk memasuki gerbangnya….!

Hati adalah Taman tempat kita merenung dari perjalanan panjang
Tempat kita berdialog dengan suara jernih,
tempat kita mendengar suara nurani,

Brng siapa yang selalu berIstighfar,maka Allah akan memberi jalan disetiap Kesulitan,
dan memberikan Rizki dari Arah yang tak disangka2,
Tuhan selalu memberi Pelangi disetiap "badai"
Senyum disetiap "air mata", berkah disetiap "Cobaan"
dan jawaban indah disetiap "Doa"..... amin.... (DR)

18 November 2008

MENYUSUN LANGKAH

"Seringkali langkah - langkah kita dalam kehidupan ini tanpa kontrol sama sekali, hingga tiba - tiba kita dalam posisi sulit yang diakibatkan oleh langkah kita sendiri yang ternyata salah. Kesalahan makan dan minum tanpa sadar telah menabung penyakit, kesalahan telinga, mata, hati, dan mulut telah membuat kita dijauhi oleh-Nya yang akibatnya kita tidak lagi mampu sholat khusyu'.


Kesalahan dalam mengatur waktu membuat banyak kewajiban yang tidak terpenuhi. Semua itu karena langkah - langkah kita yang tidak terkontrol, tak di perhitungkan dan tanpa perencanaan yang matang.

Menyusun langkah adalah sesuatu hal yang wajib, guna menghindari kesalahan langkah yang sangat mungkin terjadi. Mari memperhatikan jenis dan pola makan agar badan sehat, mari memelihara mata, telinga, hati dan mulut, agar bisa mendekat kepada ALLAH SWT serta bisa khusyu' ibadah. kemudian mari kita mengatur waktu dengan tepat, kapan dan berapa lama waktu bekerja, kapan waktu untuk keluarga, kapan waktu untuk bersilaturahim, kapan waktu untuk bermasyarakat, kapan waktu untuk meningkatkan pemahaman Islam (Tsaqofah Islamiyah).

Tanpa menyusun pengaturan langkah demikian, yakinlah raport kehidupan kita pasti ada dan bahkan banyak yang merah.

06 November 2008

MEMULAI DARI SAUDARA

Dalam mengarungi kehidupan ini, kapanpun akan selalu saja ada orang yang kesulitan, akan ada saja orang yang fakir miskin. Apalagi saat ini, di negeri ini dimana para pemimpinnya tidak saling menguatkan tetapi saling menjatuhkan, maka kemiskinan adalah buah yang sangat otomatis semakin banyak. Diantara yang miskin itu bisa jadi adalah saudara kita sendiri.


Jangan pernah berfikir bahwa itu adalah beban, tapi berfikir bahwa itu adalah kesempatan emas. Yaaa...kesempatan emas untuk memperoleh pahala dengan cara membantunya seberapa saja kita mampu. Syukur Alhamdulillah jika kita sanggup memberikan solusi pekerjaan agar berpenghasilan, agar terangkat martabatnya.

Juga jangan pernah mengatakan "enak saja dia". Sebenernya yang enak adalah yang punya kesempatan membantu, karena berkesempatan memperoleh pahala dan itu sama artinya saudara kita yang miskin itu memberi kesempatan pada kita untuk kemudahan memasuki surga.

jadi ternyata kedua-duanya beruntung, kedua-duanya bahagia. Selanjutnya berhati-hatilah dengan perasaan riya dan sombong saat membantu, karena surga tidak pernah menerima penghuni yang sombong dan riya.

Beri saudara kita dengan cara yang paling terhormat, jauh dari rasa menyakitkan.



(Hanieva Kreasi)

19 Oktober 2008

Belajar Seumur Hidup

“Belajar itu suatu kewajiban bagi kaum muslimin dan muslimat, belajar itu mulai dari buaian sampai liang lahat”. Begitu yang sama – sama kita ketahui.

Namun kenyataannya banyak yang berhenti belajar setelah berkeluarga, seolah – olah belajar itu cukup diwaktu sekolah dan dikampus saja. Jika itu yang terjadi maka berarti telah menyalahi ajaran agama (baca : ISLAM).


Pada sisi lain, seringkali orang tua memarahi anak ketika tidak mau belajar, padahal pada saat yang sama kita sebagai orang tua juga tidak belajar, dan itu berarti sebetulnya kita sebagai orang tua juga perlu dimarahi. Jadi mengapa tidak memarahi diri – sendiri dulu sebelum memarahi anak?? Dan juga mengapa tidak menasehati diri sendiri dulu, baru kemudian menasehati anak??

Inilah sebuah kekeliruan yang harus segera mungkin disadari. Kekeliruan bahwasanya kita orang tua dan anak sebetulnya sama – sama punya kewajiban belajar. Perbedaannya, anak kita belajar apa yang dipelajari diatur oleh sekolah atau kampusnya, sedangkan kita mengatur sendiri kapan dan apa yang kita pelajari, tentu sesuai dengan kekurangan serta kebutuhan yang ada. Boleh jadi bacaan Al – Qur’an kita kurang baik, begitupun masalah fiqih belum paham betul, dll. Maka pelajaran itulah yang harus kita pelajari.

Sesungguhnya kita dan anak – anak kita sama – sama wajib belajar.


BELAJAR SEUMUR HIDUP…

13 Oktober 2008

KITA TERNYATA BODOH

Tanpa terasa umur kita terus dan terus bertambah, hingga sekarang sudah sekian puluh tahun. namun waktu demi waktu yang kita lalui rasanya hampa tanpa bobot yang berarti, tanpa pencapaian yang memadai dan tanpa kepastian bahwa akhir hidup kita bahagia di akhirat dengan masuk surga. Ironisnya, jika dihitung dengan jujur malah condong berakhir sengsara di neraka.


Tapi...kenapa sekarang masih tersenyum??? tanpa merasa bersalah, tanpa merasa rugi, dan tanpa merasa takut ke neraka. Itulah sebuah kebodohan yang nyata. Kenyataan ini perlu kita sadari dan mari kita ubah. Terlalu banyak hal - hal keagamaan yang perlu kita ketahui tapi kita tidak tahu, yang perlu kita pahami tapi kita tidak paham. Begitu banyak hal - hal yang perlu kita hafalkan, amalkan, serta da'wahkan.

Oleh sebab itu, selagi masih ada waktu dan kesempatan maka tidakkah cukup cerdas
jika menggunakan waktu untuk belajar mengetahui, belajar memahami, belajar menghafalkan, mengamalkan, serta belajar menda'wahkan.

Kita akui saat ini memang bodoh...tapi kebodohan ini harus kita akhiri dengan
perencanaan dan target - target yang matang. Perencanaan dan Target (PeTa) menuju kebahagiaan didunia dan akhirat.

Demi masa...kita manusia harus beruntung dengan mengerjakan amal - amal shaleh.


"Ya Allah, Diri ini tidak layak ke SURGA-MU...Tapi tidak pula aku sanggup ke NERAKA-MU"



(Haniefa Kreasi)

23 September 2008

SAYA INGIN KAYA

Seseorang beberapa tahun lalu pindah dari rumahnya yg terletak
dikawasan elit ke perkampungan yg relatif sederhana. Tatkala
ditanya kenapa ia pindah, jawabannya saya ingin jadi orang kaya.
Bukankah anda sekarang sudah kaya??, tanyanya lagi.
Tidak !!, sekarang saya miskin jawabnya tegas.


Kemudian dia menerangkan perihal alasannya dgn jelas, antara
lain, "Katanya !", penghasilan saya 30 juta, tapi itu terkecil
dibanding tetangga - tetangga saya. Jadi saya orang termiskin.
Sekarang saya pindah dan tetangga saya penghasilan terbesarnya
cuma 10 juta, maka saya terkaya.

Dulu uang 30 juta serasa pas-pasan karena pengeluarannya juga
sekitar sekian, sehingga saya sulit untuk beramal, sedangkan
sekarang pengeluaran saya 10 juta hingga saya mampu beramal
20 juta dalam sebulan.

Dulu rumah saya seharga 3 milyar, sekarang rumah saya cuma
seharga 500 jt. 2 1/2 milyarnya saya gunakan untuk memodali
para pengusaha kecil dgn tanpa bunga atau bagi hasil sedikitpun,
hanya minta kembali modalnya jika sudah jalan usahanya. Dan
modal uang yg dikembalikan itu saya berikan lagi pada orang
lain yang membutuhkan.

Dengan cara seperti itu saya menjadi orang terkaya padahal
tadinya termiskin. Saya bisa beramal pada tadinya sulit, dan
rumah yg hanya bongkahan batu telah sangat bermanfaat menghidupi
banyak keluarga yg tidak mampu dalam permodalan.

Dulu saya tidak bisa banyak berbuat, sekarang saya bisa berbuat banyak.

ITULAH KEBAHAGIAAN SAYA.....

01 September 2008

Doa ............

Ya Allah...
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah... ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi


Tetapi ya Allah...
Seandainya telah Engkau takdirkan...
...Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti...
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta...
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya....

Ya Allah ya Tuhanku...
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang dhaif ini

Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat

Menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran
Maka kurniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai
Dan kurniakanlah padaku keturunan yang soleh

Amiin... Ya Rabbal 'Alamin